Muslimupdate.ID — Warga Kecamatan Plaju, Kota Palembang, Sumatera Selatan, melaporkan kondisi udara yang masih diselimuti asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Rabu (30/9). Kondisi polusi udara ini terpantau cukup mengkhawatirkan dengan konsentrasi polutan utama PM2.5 yang sempat mencapai 532 µg/m³ berdasarkan data pemantauan IQAir pada pukul 05.00 pagi waktu setempat.
Angka tersebut menunjukkan kualitas udara yang berada jauh di atas nilai panduan tahunan yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO). Meski intensitas asap dilaporkan sedikit berkurang pada sore hari dibandingkan pagi hari, warga setempat menyatakan bahwa kabut asap tetap bertahan pekat selama beberapa malam terakhir.
“Kalau pantauan saya sore ini asap masih pekat, bahkan saat malam hari dalam dua hari ini kondisinya sangat pekat,” ujar Berto, warga Kecamatan Plaju.
Dampak dari pekatnya asap tersebut mulai dirasakan pada berbagai sektor, terutama transportasi dan kesehatan masyarakat. Berto mengungkapkan bahwa meskipun jarak pandang di darat tidak terlalu terganggu secara signifikan, kondisi di wilayah perairan sungai dan area bandara justru mengalami penurunan jarak pandang yang cukup berarti. Dalam dokumentasi visual yang dibagikan, terlihat jelas bagaimana asap tebal menutupi kawasan bandara hingga menghalangi pemandangan menara dan pohon di sekitarnya.
Kondisi lingkungan yang memburuk ini secara langsung memengaruhi kesehatan warga. Berto menuturkan bahwa dirinya sendiri baru saja pulih dari batuk yang diduga dipicu oleh paparan asap selama satu pekan terakhir. Kekhawatiran warga semakin bertambah mengingat titik api tidak hanya terdeteksi di dekat pemukiman warga di Jakabaring, tetapi juga menyebar di berbagai wilayah pinggiran kota lainnya.
Beberapa titik api dilaporkan masih aktif di wilayah Kecamatan Sematang Borang, Talang Jambe, hingga Talang Kelapa. Berdasarkan data dari Dashboard Informasi Penanganan Karhutla milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Selasa (29/9), tercatat sebanyak 2.356 titik panas dan 89 titik api yang tersebar di wilayah Sumatera Selatan. Angka ini menegaskan bahwa ancaman karhutla masih menjadi tantangan besar bagi otoritas setempat.
Terkait penanganan dampak bagi masyarakat, warga setempat mengaku hingga saat ini belum menerima bantuan spesifik dari pemerintah daerah. Kebijakan mengenai aktivitas belajar-mengajar di sekolah pun diserahkan sepenuhnya kepada pihak kepala sekolah untuk menentukan apakah akan melaksanakan pembelajaran jarak jauh atau tetap mengadakan pertemuan tatap muka. Ketidakpastian kondisi udara memaksa warga untuk lebih waspada dalam beraktivitas di luar ruangan demi menjaga kesehatan pernapasan.
Situasi karhutla di Sumatera Selatan yang belum sepenuhnya teratasi menuntut langkah mitigasi yang lebih intensif dari pihak berwenang. Fokus utama saat ini tetap pada upaya pemadaman titik api di berbagai wilayah pinggiran untuk mencegah meluasnya kabut asap yang masuk ke pusat Kota Palembang. Masyarakat diharapkan tetap mengikuti informasi resmi terkait kualitas udara dan menjaga kesehatan dengan mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara belum membaik.


