Muslimupdate.ID — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa hingga 28 September, total luas lahan yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi mencapai 527,6 hektare. Dari luasan tersebut, sebanyak 431,53 hektare lahan telah berhasil dipadamkan melalui kombinasi operasi darat dan udara, sementara sisanya masih dalam proses penanganan.
Operasi pemadaman darat telah mencakup area seluas 369,03 hektare, sedangkan operasi udara melalui teknik pemadaman bom air atau water bombing telah menyasar lahan seluas 62,5 hektare. Kendati progres pemadaman terus berjalan, BNPB mencatat masih terdapat 96,07 hektare lahan yang hingga kini belum sepenuhnya padam dan memerlukan penanganan lebih lanjut.
“431,53 hektare di antaranya telah berhasil dipadamkan melalui operasi darat seluas 369,03 hektare dan operasi udara 62,5 hektare. Sementara itu, luas lahan yang masih belum padam tercatat 96,07 hektare,” ujar Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan.
Data terbaru menunjukkan adanya penurunan signifikan pada sisa lahan yang belum padam jika dibandingkan dengan catatan per 27 September yang mencapai 158,36 hektare. Penurunan luas titik api paling menonjol terjadi di Kalimantan Tengah yang berkurang hingga 46,70 hektare, diikuti oleh Kalimantan Selatan dengan pengurangan 17,74 hektare, Jambi 1,50 hektare, dan Kalimantan Barat seluas 1 hektare. Namun, terdapat kenaikan sisa lahan yang belum padam di wilayah Sumatera Selatan sebesar 4,15 hektare dan Riau sebesar 0,5 hektare.
Penanganan karhutla saat ini melibatkan pengerahan personel satuan tugas darat yang dibekali berbagai peralatan pendukung, seperti pompa pemadam, mobil tangki, hingga alat berat. Kekuatan personel disebar di enam provinsi prioritas dengan jumlah yang bervariasi, yakni Riau dengan 14.837 personel, Sumatera Selatan sebanyak 11.026 personel, Kalimantan Selatan dengan 7.927 personel, Jambi sebanyak 5.984 personel, Kalimantan Barat dengan 14.575 personel, dan Kalimantan Tengah sebanyak 4.686 personel.
Tim di lapangan fokus melakukan penyekatan titik api, pembasahan lahan, serta pendinginan, khususnya pada kawasan gambut yang memiliki potensi menyimpan bara api di bawah permukaan. Selain operasi darat, dukungan operasi udara juga dioptimalkan melalui 56 unit armada, yang terdiri dari 13 unit patroli atau operasi modifikasi cuaca dan 43 unit water bombing untuk menjangkau titik api yang sulit diakses.
Kendala di lapangan cukup beragam, terutama di Kalimantan, di mana kebakaran lahan gambut menjadi tantangan utama. Selain itu, akses yang sulit menuju lokasi, keterbatasan sumber air, angin kencang, serta kabut asap yang menghambat jarak pandang seringkali menjadi hambatan dalam pelaksanaan patroli maupun water bombing. Untuk mengatasinya, tim menggunakan drone termal dan teknologi injeksi air atau surfaktan guna mendeteksi serta memadamkan api bawah permukaan.
Di wilayah Sumatera, kendala yang dihadapi serupa, yakni kondisi lahan kering dan gambut serta sulitnya menjangkau kepala api. Pemerintah daerah bersama BNPB telah melakukan langkah mitigasi seperti pembangunan embung, kanal penampungan air, dan pembuatan sekat bakar. Pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca juga terus dipantau bersama BMKG, meski efektivitasnya bergantung pada ketersediaan uap air dan sebaran awan potensial yang belum merata.
Dampak dari karhutla ini telah dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama terkait penurunan kualitas udara dan gangguan kesehatan akibat kabut asap. Pihak berwenang merespons kondisi ini dengan pembagian masker, peningkatan layanan kesehatan, serta penyesuaian kegiatan belajar mengajar di beberapa wilayah yang terdampak secara situasional.
Sinergi antara kementerian, lembaga, TNI, Polri, dan pemerintah daerah terus diperkuat untuk memastikan koordinasi berjalan efektif di lapangan. Fokus utama tetap pada percepatan pemadaman guna meminimalisir risiko perluasan kebakaran serta melindungi masyarakat dari dampak asap yang membahayakan kesehatan dan aktivitas ekonomi di wilayah terdampak.


