Muslimupdate.ID — Tim SAR gabungan kembali mengevakuasi empat jenazah korban kecelakaan kapal KM Virgo Transport 8 yang terbalik dan tenggelam di perairan Masalembo, Laut Jawa, Kalimantan Selatan. Penemuan terbaru ini menambah daftar panjang korban meninggal dunia menjadi 78 orang, sementara upaya pencarian terhadap puluhan penumpang lainnya yang masih dinyatakan hilang terus diintensifkan oleh petugas di lapangan.

Hingga laporan terbaru dirilis, total korban yang telah berhasil ditemukan oleh tim penyelamat mencapai 186 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 108 orang ditemukan dalam kondisi selamat setelah sempat terapung di lautan, namun 57 orang lainnya hingga kini masih belum diketahui keberadaannya. Tim SAR terus menyisir area perairan maupun daratan di sekitar lokasi kejadian guna menemukan tanda-tanda keberadaan korban yang tersisa.

Penemuan empat jenazah tambahan tersebut dilakukan oleh Search and Rescue Unit (SRU) darat yang beroperasi di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Langkah penyisiran darat ini menjadi krusial mengingat kuatnya arus laut di perairan Masalembo yang berpotensi membawa material kapal maupun tubuh korban hingga ke pesisir pantai yang cukup jauh dari titik awal kecelakaan.

Jenazah pertama ditemukan oleh tim gabungan di kawasan Pantai Lunci, Kabupaten Sukamara, pada dini hari pukul 01.07 WIB. Informasi mengenai penemuan tersebut diterima oleh Kantor SAR Palangka Raya pada pagi harinya, yang kemudian segera ditindaklanjuti dengan mengevakuasi korban ke RSUD Kabupaten Sukamara guna menjalani proses penanganan medis dan identifikasi lebih lanjut oleh tim ahli.

Selain penemuan jenazah, tim juga menemukan satu unit life craft atau sekoci penyelamat yang terdampar di wilayah Natai Kuini, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Lokasi penemuan alat keselamatan kapal ini berjarak sekitar 7 mil laut dari wilayah Kabupaten Sukamara, yang mengindikasikan luasnya sebaran puing-puing kapal akibat hantaman gelombang dan arus laut yang sangat kuat selama beberapa hari terakhir.

Penyisiran di wilayah lain juga membuahkan hasil ketika tim SAR gabungan menemukan tiga jenazah tambahan di kawasan Sungai Teruntum, Kecamatan Sungai Hilir, Kabupaten Seruyan. Ketiga jenazah tersebut dievakuasi pada sore hari setelah petugas menerima laporan dari masyarakat setempat mengenai adanya objek yang mencurigakan di aliran sungai yang bermuara ke laut tersebut.

Di samping pencarian di wilayah pesisir dan permukaan air, tim penyelam gabungan yang terdiri dari personel Basarnas, TNI Angkatan Laut, dan Potensi SAR tetap fokus melakukan penyisiran di bagian dalam badan kapal. KM Virgo Transport 8 saat ini masih berada dalam posisi terbalik, sehingga proses pemeriksaan setiap ruangan di dalam kapal memerlukan ketelitian tinggi dan pengamanan ekstra bagi para penyelam.

Meskipun telah dilakukan penyisiran mendalam di berbagai sudut badan kapal pada hari ini, tim penyelam melaporkan belum menemukan adanya tambahan korban baru di dalam bangkai kapal. Kendala utama yang dihadapi oleh tim bawah air adalah jarak pandang yang sangat terbatas serta tumpukan material di dalam kapal yang menghambat akses masuk ke ruang-ruang kabin penumpang.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menjelaskan bahwa perluasan area pencarian hingga ke daratan dan sungai-sungai di pesisir Kalimantan merupakan strategi untuk memaksimalkan operasi kemanusiaan ini. Pihaknya berupaya memastikan tidak ada satu pun kemungkinan lokasi yang terlewatkan dalam pencarian para korban yang masih hilang.

“Langkah ini dilakukan untuk memperluas cakupan pencarian dan menindaklanjuti setiap kemungkinan lokasi keberadaan korban,” tegas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii.

Syafii juga menginstruksikan seluruh jajaran di lapangan untuk terus menjaga koordinasi antarunsur dan menyesuaikan pergerakan berdasarkan dinamika cuaca di Laut Jawa. Menurutnya, keselamatan personel tetap menjadi prioritas utama di tengah kondisi medan yang cukup menantang dan cuaca yang sewaktu-waktu dapat berubah ekstrem di perairan tersebut.

“Kami mengoptimalkan seluruh unsur dan sarana yang tersedia. Pencarian akan terus dilakukan dengan memperhatikan hasil evaluasi di lapangan serta keselamatan personel yang melaksanakan operasi,” ujar Mohammad Syafii.

Kronologi kecelakaan bermula ketika KM Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak pada Minggu, 13 September 2026, sekitar pukul 02.00 WITA. Kapal tersebut sedang menempuh perjalanan dari Pelabuhan Surabaya menuju Banjarmasin. Cuaca buruk dan gelombang tinggi di kawasan Masalembo diduga kuat menjadi penyebab utama kapal kehilangan keseimbangan hingga akhirnya terbalik pada hari yang sama.

Sementara itu, proses identifikasi terhadap jenazah yang telah dievakuasi terus berjalan di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan melaporkan telah berhasil mengidentifikasi 16 jenazah tambahan pada hari Senin kemarin, sehingga total korban meninggal yang sudah terkonfirmasi identitasnya mencapai 41 orang.

Kabid Dokkes Polda Kalsel Kombes dr Much Sofwan merinci bahwa dari 41 jenazah yang telah teridentifikasi tersebut, 25 di antaranya sudah diserahkan secara resmi kepada pihak keluarga untuk dipulangkan ke daerah asal. Proses identifikasi ini sangat bergantung pada data antemortem yang diberikan keluarga serta data postmortem yang dikumpulkan oleh tim medis dari jenazah korban.

Hingga saat ini, masih terdapat 29 jenazah yang belum berhasil diidentifikasi dari total 70 jenazah yang telah diterima oleh Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin. Tim DVI terus bekerja secara maraton dengan menggunakan berbagai metode, termasuk pemeriksaan sidik jari, catatan gigi, hingga tes DNA untuk memastikan setiap korban dapat dipulangkan kepada keluarga yang tepat.

Pemerintah daerah dan instansi terkait terus memberikan dukungan bagi keluarga korban yang menunggu kepastian di posko-posko yang telah disediakan. Operasi SAR gabungan ini ditegaskan akan terus berlanjut hingga batas waktu yang ditentukan, dengan fokus utama menemukan 57 korban yang masih belum diketahui nasibnya di tengah luasnya perairan Laut Jawa.